Asas Hukum Fundamental

Beberapa asas hukum fundamental yang menjadi fondasi sistem hukum Indonesia perlu dipahami setiap praktisi. Asas legalitas (nullum crimen sine lege) menyatakan tidak ada perbuatan dapat dipidana kecuali atas ketentuan undang-undang yang telah ada. Asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) melindungi hak tersangka/terdakwa hingga ada putusan inkracht. Asas ne bis in idem melarang penuntutan kedua kali atas perbuatan yang sama yang telah diputus. Ketiganya diakui dalam KUHAP dan UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru).

Asas pacta sunt servanda menjamin setiap perjanjian yang sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak (Pasal 1338 KUHPerdata). Asas lex specialis derogat legi generali menyatakan peraturan khusus mengalahkan peraturan umum. Asas lex posterior derogat legi priori menyatakan peraturan yang lebih baru mengalahkan yang lebih lama. Asas lex superior derogat legi inferiori menyatakan peraturan lebih tinggi mengalahkan yang lebih rendah.

Dalam praktik hukum, ketiga asas norma (lex specialis, lex posterior, lex superior) sering menimbulkan konflik norma yang harus diselesaikan melalui penafsiran hukum (interpretasi sistematis, teleologis, atau historis). Asas audi et alteram partem (mendengar kedua pihak) dan equality before the law (persamaan di hadapan hukum) menjadi pedoman utama dalam setiap proses peradilan untuk memastikan keadilan prosedural terpenuhi.